Menguak Potensi Flavonoid dan Tanin sebagai Garda Terdepan Biopestisida Nabati
Biopestisida nabati kini menjadi instrumen vital dalam mewujudkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan yang ramah lingkungan. Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) telah mengintensifkan riset pemanfaatan metabolit sekunder tanaman sebagai solusi cerdas pengganti pestisida kimia sintetis. Produk biopestisida hasil rakitan institusi ini, seperti formula "Biotris" yang berbahan aktif minyak kemiri sunan, dirancang secara khusus oleh tenaga ahli untuk mengendalikan hama utama seperti Penggerek Buah Kopi (PBKo) tanpa meninggalkan residu berbahaya bagi kesehatan konsumen maupun ekosistem.

Senyawa flavonoid dan tanin merupakan komponen kunci dalam efikasi biopestisida yang dikembangkan melalui serangkaian proses pengujian di laboratorium hingga lapangan oleh BRMP TRI. Flavonoid, sebagai sub-klas polifenol, bekerja sebagai antimikroba alami dan agen penginduksi ketahanan sistemik yang memicu tanaman untuk lebih kuat menghadapi serangan patogen. Di sisi lain, tanin berfungsi sebagai zat antinutrisi yang mengganggu sistem pencernaan serangga hama (antifeedant), sehingga menurunkan nafsu makan dan menghambat laju perkembangan larva secara signifikan. Sinergi kedua senyawa aktif ini, yang melimpah pada tanaman koleksi plasma nutfah seperti babadotan, mimba, dan kemiri sunan, terbukti efektif menekan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) melalui mekanisme racun saraf dan penghambatan reproduksi.

Pemanfaatan biopestisida berbasis flavonoid dan tanin memberikan manfaat luas dalam mendukung implementasi pertanian sirkular berbasis zero waste,. Selain melindungi komoditas unggulan seperti kopi dan kakao, biopestisida ini memiliki toksisitas rendah terhadap mamalia serta bersifat selektif sehingga menjaga keberadaan musuh alami seperti predator dan parasitoid tetap terjaga di kebun,. Hilirisasi inovasi teknologi dari BRMP TRI ini juga membuka peluang ekonomi bagi petani untuk memproduksi pestisida secara mandiri dengan biaya lebih rendah, sekaligus meningkatkan daya saing produk perkebunan nasional di pasar internasional yang kian menuntut standar keamanan pangan yang tinggi.
