PREDIKSI MUSIM KEMARAU 2025 DI INDONESIA
Sektor Pertanian
Pada tahun 2025, sebagian besar Zona Musim (295 ZOM; 46%) diprediksi akan mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih pendek dibandingkan normalnya. Namun, di sebagian kecil wilayah utara Jawa Barat, yang merupakan sentra produksi padi, musim kemarau di- prediksi berlangsung lebih lama. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Sumatera bagian tengah dan utara, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat, serta sebagian kecil wilayah Sulawesi.
Berikut adalah beberapa rekomendasi untuk sektor pertanian sebagai langkah antisipasi, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih lama dan lebih kering:
Sektor Perkebunan
Prediksi musim kemarau tahun 2025 menunjukkan bahwa wilayah perkebunan sawit umumnya akan mulai mengalami musim kemarau pada bulan Juni, mencakup sebagian Sumatera dan bagian selatan Kalimantan. Wilayah perkebunan sawit dengan sifat hujan di bawah normal meliputi bagian utara Riau, bagian utara Aceh, sebagian Sumatera Utara, dan bagian selatan Kalimantan Barat. Sementara itu, wilayah perkebunan sawit dengan sifat hujan di atas normal terdapat di bagian selatan Aceh dan Lampung. Puncak musim kemarau di wilayah perkebunan sawit di Sumatera diprediksi terjadi antara bulan Juni hingga Agustus. Sementara itu, di Kalimantan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.
Rekomendasi pengelolaan perkebunan sawit selama musim kemarau 2025:
Wilayah dengan Sifat Hujan di Atas Normal
Pada wilayah dengan sifat hujan di atas normal, potensi hujan yang masih terjadi selama musim kemarau dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencegah cekaman air pada tanaman. Namun, serangan hama, penyakit, dan gulma tetap perlu diwaspadai, karena dapat menghambat pertumbuhan buah sawit meskipun curah hujan lebih tinggi dari biasanya.
Wilayah dengan Sifat Hujan di Bawah Normal
Pada wilayah dengan sifat hujan di bawah normal, perlu diwaspadai peningkatan risiko kebakaran lahan akibat kekurangan air dan kekeringan, terutama pada periode puncak musim kemarau. Selain itu, pengelolaan air irigasi dan sumber air lainnya perlu dioptimalkan secara efisien untuk mengimbangi evapotranspirasi yang tinggi serta mencegah cekaman air pada tanaman.
(Sumber: BMKG, 2025)